Kenapa Sholat Dzuhur dan Ashar Tidak Bersuara?

Pohonilmu.com - Dalam praktik keagamaan Islam, sholat merupakan salah satu rukun yang paling penting dan menjadi tiang agama. Sholat lima waktu yang diwajibkan kepada umat Muslim serta memiliki keunikan masing-masing, termasuk dalam hal bacaan yang dilantunkan. Sholat Dzuhur dan Ashar, khususnya, memiliki karakteristik yang berbeda dibandingkan dengan sholat lainnya, yaitu dilaksanakan secara sirri atau tidak bersuara.

Mengutip buku Fikih Empat Madzhab Jilid 1 oleh Syaikh Abdurrahman Al-Juzairi, salat Zuhur dan Asar memang memiliki perbedaan dari ketiga salat wajib lainnya, yaitu disunahkan untuk memelankan bacaan dalam sholat saat melafalkan surat Al-Fatihah dan surat pendek lainnya. 

Pada pelaksanaan salat berjamaah, imam salat Zuhur dan Asar biasanya tidak mengeluarkan suara yang keras layaknya salat lain, seperti Magrib, Isya, dan Subuh. Mengapa demikian? Berikut ini adalah penjelasannya.


Kenapa Sholat Dzuhur dan Ashar Tidak Bersuara dalam Islam?

Alasan utama kenapa salat Dzuhur dan Ashar tidak bersuara adalah karena Rasulullah mencontohkan bacaan pada salat Dzuhur dan Ashar dibaca dengan suara pelan.

Sebagai umat muslim, sudah seharusnya mengikuti apa yang dicontohkan oleh Rasulullah tersebut dalam pelaksanaan salat. Hal ini sebagaimana diterangkan dalam riwayat hadis berikut:


صَلُّوا كَمَا رَأَيْتُمُونِي أُصَلِّي

Artinya: "Salatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku salat." (HR. Bukhari dan Ad-Darimi)

Awal mula adanya anjuran memelankan suara dalam bacaan salat Zuhur dan Asar adalah sebab turunnya Al-Quran surat Al-Isra ayat 110. Allah SWT berfirman:
قُلِ ادْعُوا اللّٰهَ اَوِ ادْعُوا الرَّحْمٰنَۗ اَيًّا مَّا تَدْعُوْا فَلَهُ الْاَسْمَاۤءُ الْحُسْنٰىۚ وَلَا تَجْهَرْ بِصَلَاتِكَ وَلَا تُخَافِتْ بِهَا وَابْتَغِ بَيْنَ ذٰلِكَ سَبِيْلًا
Artinya: "Katakanlah (Nabi Muhammad), 'Serulah 'Allah' atau serulah 'Ar-Rahman'! Nama mana saja yang kamu seru, (maka itu baik) karena Dia mempunyai nama-nama yang terbaik (Asmaulhusna). 
Janganlah engkau mengeraskan (bacaan) sholatmu dan janganlah (pula) merendahkannya. Usahakan jalan (tengah) di antara (kedua)-nya!" (QS. Al-Isra: 110)

Dalam surat tersebut, Allah memerintahkan pada Rasulullah agar dirinya tidak mengeraskan bacaan dalam sholat, tetapi jangan pula terlalu pelan.


Menurut Tafsir Tahlili Qur'an Kementerian Agama (Kemenag), maksud "bacaan" dalam ayat tersebut mencakup lafal basmalah dan surat-surat dalam salat. Perintah tersebut turun saat Rasulullah berada di Makkah.

Saat itu, Rasulullah mengeraskan suaranya saat salat hingga terdengar oleh orang-orang musyrik di Makkah. Ketika mendengarnya, mereka lalu mengejek, mengecam, serta mencaci maki Al-Quran, Rasulullah, dan juga para sahabatnya.

Pada permulaan Islam, kaum muslim memang masih dalam keadaaan lemah. Rasulullah, para sahabat, dan kaum muslimin lainnya akhirnya melakukan salat dengan sembunyi-sembunyi untuk menghindari penganiayaan orang-orang musyrik. 

Pada salat Dzuhur dan Ashar, Rasulullah membaca surat Al-Fatihah dan surat pendek dengan suara pelan untuk menghindari perhatian orang-orang musyrik yang berkeliaran di mana-mana. 
Sedangkan ketika sholat Subuh, bacaan Al-Fatihah dibaca keras karena saat itu orang-orang musyrik masih tidur dengan nyenyak. 

Sementara pada waktu salat Magrib dan Isya, surat Al-Fatihah dibaca keras karena orang-orang musyrik sedang sibuk dengan hiburan, sehingga mereka tidak sempat lagi memperhatikan kaum muslim.
Setelah kaum muslim kuat dan hijrah ke Madinah, Rasulullah tidak mengubah kebiasaan itu hingga beliau wafat. Sejak saat itu, umat muslim di seluruh dunia melaksanakan apa yang telah dicontohkan oleh Rasulullah tersebut.

Post a Comment

Previous Post Next Post